Menjejak Perjalanan dan Pemikiran Sound of Borobudur

Borobudur merupakan warisan mega perpustakaan yang menyajikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang telah dicapai oleh leluhur kita pada 13 abad silam. Berbagai kisah dengan nilai pengetahuan dan pesan moral telah diwariskan oleh nenek moyang kita untuk generasi berikutnya.

Borobudur adalah literatur dan dokumentasi perjalanan lelaku leluhur kita. Pada dinding-dinding candi yang dibangun di masa wangsa Syailendra ini terdapat 1.460 panel relief cerita dan 1.212 panel relief dekoratif.

Sementara, Sound of Borobudur menjadi sebuah movement (gerakan) yang bersumber dari gagasan untuk membunyikan kembali berbagai alat musik yang wujudnya terpahat dalam relief-relief candi, dan menjadi bukti kebesaran peradaban leluhur bangsa Indonesia yang telah mendunia pada masanya.  

Gerakan ini didesain untuk dapat menjadi “pemantik” dalam membangun kebanggaan bangsa Indonesia terhadap kekayaan budaya leluhur, sekaligus sebagai media untuk menemukan rumusan agar potensi ini dapat memberikan dampak positif langsung bagi masyarakat, khususnya warga di sekitar candi Borobudur.  

Lahirnya Gerakan

Gagasan Sound of Borobudur lahir pertama kalinya pada pertengahan Oktober 2016, dalam rangkaian kegiatan Borobudur Cultural Feast, yang meliputi aktivitas “Sonjo Kampung” dan selebrasi pentas seni budaya di lima panggung.

Saat itu tim Japung Nusantara (Jaringan Kampung Nusantara) yang terdiri dari Trie Utami, Rully Fabrian, Redy Eko Prastyo, KRMT Indro Kimpling Suseno, dan Bachtiar Djanan, sedang berdiskusi mempelajari literatur buku foto-foto karya Kassian Cephas tentang relief Karmawibhangga di kediaman KRMT Indro Kimpling Suseno, sang pemrakarsa Borobudur Cultural Feast.

Pada literatur tersebut ditemukan foto-foto alat musik di relief Karmawibhangga yang bentuknya cukup jelas. Bergulirlah gagasan untuk dapat menghadirkan kembali alat-alat musik yang tergambar pada relief Karmawibhangga ini dalam wujud fisik serta membunyikannya kembali.

Saat itu disepakati untuk merekonstruksi tiga instrumen musik dawai, yang bentuknya diambil dari relief Karmawibhangga nomor 102, 125, dan 151. Pengerjaan pembuatan tiga alat musik ini dipercayakan kepada Ali Gardy Rukmana, seniman muda dari kota Situbondo, Jawa Timur.

Ketiga buah dawai ini ditampilkan di depan publik untuk pertama kalinya pada acara Sonjo Kampung yang bertempat di Omah Mbudur, Dusun Jowahan, Desa Wanurejo, kecamatan Borobudur. Kemudian alat-alat musik ini diluncurkan dalam acara pembukaan Borobudur Cultural Feast pada tanggal 17 Desember 2016, di lapangan Lumbini yang berada di area Candi Borobudur.

Dalam launching ini dibawakan tiga buah komposisi yang dimainkan oleh Dewa Budjana, Ali Gardy, Redy Eko Prastyo, Rayhan Sudrajat, John Arief, dan Agus Wayan Joko Prihatin. Sementara Trie Utami tampil sebagai vokalis, sedangkan koreografer sekaligus penari Didik Nini Thowok merespon komposisi dengan tari.

Eksplorasi Lanjutan

Trie Utami dan tim tidak berhenti di acara peluncuran tersebut. Ia berinisiatif untuk terus bergerak mengeksplorasi, meriset, mewujudkan, dan membunyikan kembali berbagai alat musik yang tepahat di relief-relief Karmawibhangga, Jataka, Lalitavistara, Avadana, dan Gandavyuha di candi Borobudur.

Hasil eksplorasi tersebut menghasilkan temuan lebih dari 200 relief yang terdapat di 40 panel di candi ini, menampilkan lebih dari 40 jenis instrumen alat musik, seperti alat musik musik kordofon (petik), aerofon (tiup), idiofon (pukul), dan membranofon (membran). Sebagian alat-alat musik tersebut masih dapat kita jumpai hari ini dan dimainkan di seluruh pelosok 34 provinsi di Indonesia, serta menyebar ke 40 negara di seluruh dunia.

Pada bulan Januari 2017, Sound of Borobudur melakukan penampilan keduanya, disaksikan oleh Menteri BUMN, Rini Mariani Soemarno, di Balkondes (Balai Ekonomi Desa) Karangrejo, pada kegiatan BUMN Hadir Untuk Negeri “Explore Borobudur”, dengan formasi 8 musisi.

Selanjutnya, pada acara Borobudur International Festival 2017 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 28 sampai 30 Juli 2017, pergelaran seni budaya lintas bangsa ini ditutup oleh pementasan  Sound of Borobudur, masih dengan formasi player 8 orang personil.

Lambat laut, Sound of Borobudur semakin serius untuk melakukan pengembangannya, dengan melibatkan Purwa Tjaraka, sebagai musikus dan komponis senior yang karya-karyanya banyak menghiasi film-film layar lebar dan sinetron Indonesia, serta sebagai pendiri Purwacaraka Music Studio yang telah tersebar lebih dari 50 cabang di berbagai kota di Indonesia.

Pada tanggal 6 Januari 2020, Sound of Borobudur tampil dalam puncak dalam acara Festival Pamalayu yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat di Candi Padang Roco, Kabupaten Dharmasraya. Dengan formasi 14 personil dan instrumen yang semakin bertambah, hasil dari proses merekonstruksi kembali satu-persatu alat-alat musik yang tergambar di relief, mereka membawakan berbagai komposisi yang tengah digarap dalam proses rekaman album Sound of Borobudur.

Pengumpulan data, wawancara, riset studi literasi, dan rekonstruksi pembuatan alat-alat musik yang bentuknya diambil dari pahatan relief Borobudur, dilakukan dari tahun 2017 sampai 2019, termasuk di mengumpulkan berbagai alat musik yang hari ini masih ada dan dimainkan di berbagai penjuru Nusantara. Saat ini, Sound of Borobudur telah berhasil melakukan rekonstruksi alat musik sebanyak 18 instrumen dawai dari kayu, 5 instrumen berbahan gerabah, dan satu buah instrumen idiophone yang terbuat dari besi.

Kini Sound of Borobudur telah berkembang menjadi sebuah orkestra yang telah melibatkan 40 musisi dalam proses penciptaan, aransemen, dan album rekaman yang berisi 12 komposisi lagu, yang semuanya dimainkan dalam beragam instrumen yang berasal dari relief Borobudur, dengan Purwa Tjaraka sebagai Executive Producer.

Pertanggungjawaban Akademik

Sejak tahun 2016, gerakan Sound of Borobudur telah melakukan banyak proses yang tak terhitung. Dalam perjalanan panjang tersebut, lahir dan berkembanglah berbagai rumusan dan gagasan yang diharapkan dapat semakin menguatkan berbagai ranah strategis yang dapat diusung oleh gerakan ini.

Untuk membuat sistematika manajemen yang lebih efektif, efisien, dan terukur dalam konteks Sound of Borobudur sebagai sebuah gerakan, maka kemudian Sound of Borobudur dikelola dalam sebuah wadah Yayasan Padma Sada Svargantara, yang diinisiasi oleh Trie Utami, Ir. Purwa Tjaraka, Dewa Budjana, Ir. Rully Fabrian, Santi G. Purwa, dan Budi Setiawan (Budi Dalton).

Sound of Borobudur berupaya untuk melakukan pertanggungjawaban secara ilmiah mengenai gagasan membunyikan alat-alat musik yang berasal dari relief di candi Borobudur, melalui sebuah Seminar dan Lokakarya daring “Borobudur sebagai Pusat Musik Dunia”, pada tanggal 7-9 April 2021 yang lalu.

Kegiatan ini dibuka oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dr. H. Sandiago Salahudin Uno, BA., MBA. Dalam kegiatan yang didukung sepenuhnya oleh Kemenparekraf ini, tak kurang dari 700 partisipan terlibat secara daring melalui perangkat aplikasi Zoom Meeting dan siaran langsung melalui situs web YouTube.

Pembicara kehormatan dalam seminar yang diselenggarakan di Pendopo Omah Mbudur, Magelang ini menghadirkan Gubernur Jawa Tengah, H. Ganjar Pranowo, SH., M.IP. Selain itu, hadir pula memberikan pendapat, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI,  Dr. Hilmar Farid,  Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat., SS., MM., serta  Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan Kemenparekraf RI, Ir. Rizky Handayani Mustafa, MBTM.

Dalam sesi pembuka, penampilan Sound of Borobudur hadir menyapa dunia dengan menampilkan tiga komposisi, yaitu “Jataka” (ciptaan Dewa Budjana),  “Lan e Tuyang” (lagu tradisional suku Dayak Kenyah), dan “lndonesia Pusaka” (ciptaan Ismail Marzuki), yang dimainkan oleh formasi minimalis, yaitu yaitu Trie Utami, Dewa Budjana, Bintang Indrianto, Fariz Alwan, Chaka Priambudi, dan Taufan Irianto Siswadi.

Pada sesi mengenai Sound of Borobudur dalam proyeksi pengembangan bisnis, pembicara seminar dibawakan oleh Menteri Koperasi dan UKM RI, Drs. Teten Masduki. Dalam sesi ini turut berpartisipasi Direktur SMESCO Indonesia (Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi & UKM), Leonard Theosabrata, dan Direktur Badan Otorita Borobudur, Dr. Agus Rochiyardi, serta Direktur Industri Musik, Seni Pertunjukan, dan Penerbitan Kemenparekraf RI, Amin Abdullah.

Dalam sesi-sesi seminar selanjutnya, dilakukan kajian ilmiah mengenai Sound of Borobudur dalam beberapa perspektif keilmuan. Sesi kajian-kajian tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Melani Budianta, MA., pakar ilmu budaya dari Universitas Indonesia, dengan moderator Redy Eko Prastyo, penggagas sekaligus Ketua Japung Nusantara (Jaringan Kampung Nusantara).

Narasumber yang dihadirkan dalam sesi-sesi ini adalah Nurkhotimah, MA. dari Universitas Gajah Mada (tema arkeologi), Drs. Haryanto, M.Ed, dari ISI Jogja (tema etnomusikologi), Dr. Lono Lastoro Simatupang, MSi. dari Universitas Gajah Mada (tema antropologi), Drs. M Dwi Cahyono, MHum. arkeolog dari Universitas Negeri Malang (tema sejarah dan arkeologi), dan Prof. Dr. M Baiquni dari Universitas Gajah Mada (tema geografi).

Sesi-sesi dalam seminar dan lokakarya ini berlangsung hangat dan dinamis. Antusiasme peserta secara daring dan luring dalam merespon paparan narasumber, dan tanggapan-tanggapan dari para narasumber, menjadi catatan penting dan menarik, yang menjadi basis pijakan ilmiah berkembangnya tematik Sound of Borobudur ini menjadi sebuah isu yang sangat strategis dalam berbagai aspek.

Borobudur Pusat Peradaban

Melalui Seminar dan Lokakarya Borobudur sebagai Pusat Musik Dunia, telah dibedah secara ilmiah bahwa candi Borobudur merupakan patokan peradaban, dan merupakan repository terlengkap pada masanya untuk keberadaan alat-alat musik yang terekam dalam sebuah situs sejarah.

Dengan adanya 226 relief alat musik, yang terpahat pada 40 panel relief, dan menampilkan lebih dari 40 jenis instrumen alat musik, menunjukkan bahwa pada masa 13 abad yang lalu situs ini merupakan salah satu pusat budaya dunia, dalam hal ini pada konteks musik. Tidak ada situs-situs lain di dunia pada era tersebut yang menampilkan relief alat musik sebanyak yang ada di Borobudur

Gerakan Sound of Borobudur sendiri menjadi penafsiran ulang kembali dari seniman terhadap sejarah bangsanya dan terhadap kekayaan budaya yang dimiliki leluhur bangsa ini, dengan ditunjang bukti-bukti dan kajian secara akademis.  

Upaya mewujudkan dan membunyikan kembali alat-alat musik dari masa lampau ini dilakukan para seniman tidak hanya dalam rangka membunyikan cerita dari panel Borobudur, namun juga tinjauan mengenai keberadaan khazanah  alat musik Nusantara, yang informasi dan bukti sejarahnya telah terpahat di relief candi Borobudur.

Musik menjadi sebuah alat komunikasi, sekaligus sebagai media diplomasi. Hal ini telah berlangsung paling tidak semenjak 13 abad yang lalu sampai hari ini, baik dalam konteks lintas bangsa, maupun lintas daerah dan lintas etnis di nusantara.

Hal ini dapat dibuktikan dari keberadaan alat-alat musik yang tergambar di relief Borobudur, sebagian di antaranya sampai hari ini masih ada dan masih dimainkan di 34 provinsi di Indonesia, serta di lebih dari 40 negara di seluruh dunia. Sementara uniknya, sebagian dari alat-alat musik tersebut kini tidak lagi dapat ditemukan keberadaanya dalam kesenian yang ada di Jawa.

Dari realitas tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada masa lalu, Borobudur merupakan titik pertemuan lintas bangsa dan lintas budaya, serta sebagian dari alat-alat musik tersebut dibawa dari luar untuk dihadirkan di Borobudur. Atau bisa pula sebaliknya, berawal dari Borobudur, maka terjadilah penyebaran alat-alat musik tersebut ke segala penjuru nusantara dan berbagai belahan dunia.

Konteks Kekinian

Berpijak pada landasan kajian ilmiah yang ada, maka Sound of Borobudur sebagai sebuah gerakan seharusnya dapat bertransformasi menjadi sebuah tematik dan isu yang strategis dalam situasi kekinian. Kuncinya adalah pada reinterpretasi yang mampu selaras dengan jaman.

Sound of Borobudur pada kondisi kekinian dapat di reinterpretasikan dalam beragam pemanfaatan. Pada konteks pariwisata, candi Borobudur telah ditetapkan sebagai Destinasi Super Prioritas (DSP) oleh Pemerintah Indonesia, maka selanjutnya, “turunan” produk Sound of Borobudur dapat dimanfaatkan dalam beraneka bentuk. Baik sebagai alat musik itu sendiri, sebagai seni kriya, sebagai seni pertunjukan, sebagai sarana edukasi, bahkan menjadi sebuah destinasi soundscape yang khas dan unik, yang dapat diakses baik secara daring maupun luring.

Melalui Sound of Borobudur, masyarakat dapat “merasakan” Borobudur tanpa harus menginjakkan kakinya di candi, dan dapat memposisikan Borobudur tidak lagi hanya sekedar menjadi sebuah “latar belakang” untuk berswafoto. Borobudur menjelma menjadi duta diplomasi budaya yang mampu menginduksi orang lain untuk mengapresiasi Borobudur, bahkan mengapresiasi Indonesia.

Secara luas, gerakan Sound of Borobudur telah bergulir menjadi sebuah gerakan kebangsaan melalui budaya, untuk menguatkan jati diri dan identitas bangsa. Borobudur pun telah memberikan pelajaran berharga tentang nilai-nilai kebhinekaan, toleransi, kebersamaan, serta membangun jiwa nasionalisme, patriotisme, dan rasa cinta kepada tanah air.

Perihal bagaimana Sound of Borobudur ke depannya dapat semakin memberikan nilai kemanfaatan yang nyata, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya, tentu saja ini semua akan menjadi tugas yang harus kita pikiran bersama-sama. Disitulahlah gerakan ini harus diterjemahkan ke dalam ranah yang lebih teknis, melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat yang terorganisir, teratur, dan tersistem.

Jadi, saat alat-alat musik yang ada pada panel relief Borobudur telah dibunyikan, maka dunia akan memasang mata dan telinganya pada seruan keindahan yang datang dari bumi Nusantara. Leluhur kita telah meninggalkan sebuah warisan sangat berharga yang harus kita kerjakan bersama dalam semangat membangun bangsa, dengan sebuah sinergi dan harmoni dalam keberagaman.

= = = = = = = = = = = = = =

Catatan

Pernyataan-Pernyataan:

Dr. H. Sandiago Salahudin Uno, BA., MBA, (Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI):

Sesuai arahan Presiden dan RPJMN 2020-2024, Borobudur telah ditetapkan sebagai satu dari lima Destinasi Super Prioritas (DSP), yang diarahkan untuk menjadi destinasi yang berkualitas dan berkelanjutan. Keutuhan dan kelestarian candi Borobudur serta pemberdayaan masyarakat lokal di sekitar candi menjadi sebuah prioritas dalam pengembangan DSP Borobudur.

Saya mengapresiasi kolaborasi antar berbagai komunitas dengan para ahli sejarah, sosial, dan budaya untuk membuat kajian ilmiah yang sangat berkontribusi memperkuat nilai budaya dan historis, serta storynomics, di mana harus ada cerita dan ada nilai ekonominya.

Candi Borobudur mengandung banyak sumber pengetahuan, termasuk dalam bidang musik. Dari berbagai relief di Borobudur bisa kita saksikan banyak relief yang menggambarkan pemusik sedang memainkan beragam alat musik, hal ini menunjukkan bahwa Borobudur merupakan pertemuan musik dunia di masa lalu.  Hal ini tentu juga penting sebagai bahan kajian dan pertimbangan kebijakan pemerintah ke depan, khususnya dalam bidang pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Dr. Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI):

Sound of Borobudur ini merupakan revitalisasi nilai dari Borobudur itu sendiri, bagaimana menarik Borobudur keluar dari batunya, tapi “hidup”. Bahwa pada saat ini Sound of Borobudur menjadi sebuah bukti kongkrit, di mana eksistensi Borobudur sebagai sebuah substansi bisa ditarik ke luar candi, dalam nilai, spirit, maupun material, namun tetap tidak keluar dari koridor substansi Borobudur itu sendiri.

Proses revitalisasi itu sudah di-rekonstruksi, kemudian dimainkan dengan reinterpretasi ke-kinian. Ini sebuah pembuktian bahwa Borobudur itu adalah sebuah perpustakaan, bukan sekedar gagasan dan kajian, tapi bisa dibuktikan.

Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah):

Sound of Borobudur sebenarnya reinventing yang dahsyat. Para musisi ini melakukan riset meng-eksplore alat musik yang ada di relief, kemudian di replika dan dibunyikan. Ada seniman-seniman yang menggagas idenya, dan ada ilmuwan-ilmuwan yang dilibatkan untuk mengkaji secara ilmiah.

Mimpi para musisi itu, katanya bukan hanya sekadar untuk membuat, namun juga membunyikannya. Mereka juga melakukan riset dengan hipotesis ‘Borobudur memang adalah pusat seni, pusat musik dunia, atau kita adalah tempat bertemunya peralatan musik, instrumen dari seluruh dunia.

Saya ingin kelanjutan dari ini semua adalah, yang pertama, bagaimana alat musik ini diproduksi. Kemudian, yang kedua, bagaimana alat musik ini bisa dimainkan dan dilakukan workshop. Keberadaan alat-alat musik ini akan memperkaya Borobudur.

Saya tegaskan, bahwa saya akan mendukung upaya menjadikan Borobudur sebagai pusat kesenian dunia. Dengan temuan para musisi-musisi ini saya yakin bahwa Sound of Borobudur akan memperkaya dan menambah daya tarik kawasan ini.

Saya ingin dorong agar nanti bisa terbangun sekolah musik di Borobudur, agar kemudian banyak orang akan sharing dan belajar di sini, jadi from sound of borobudur, menjadi show of borobudur. Itulah Borobudur School of Music

Mungkin ke depan kita tidak perlu membuat hal baru di sini, cukup mewujudkan apa-apa saja yang ada di relief candi itu dijadikan sebuah pertunjukan menarik. Tidak menutup kemungkinan nanti ada tarian-tarian yang terpahat di relief itu ke depan bisa digerakkan di kehidupan nyata. Maka orang yang berwisata nanti akan betah, karena akan mendapatkan soul-nya Borobudur.

Lestari Moerdijat., SS., MM., (Wakil Ketua MPR RI):

Nilai-nilai yang ada pada warisan budaya, seperti Candi Borobudur bisa menjadi acuan dalam menghadapi tantangan di masa kini. Sama halnya dengan empat konsensus kebangsaan, seperti UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) juga memiliki nilai-nilai yang bersumber dari budaya masa lalu dalam peradaban bangsa ini.

Nilai kebhinekaan, gotong-royong, musyawarah untuk mufakat dan berbagai nilai-nilai yang berkembang pada peradaban masa lalu, merupakan sejumlah nilai yang diwarisi para leluhur, yang hingga saat ini masih relevan untuk dijadikan jalan keluar dari sejumlah problem yang dihadapi bangsa saat ini.

Karena itu, upaya mengkaji kawasan cagar budaya Borobudur sebagai pusat musik dunia merupakan inisiatif yang harus didukung bersama. Demikian pula gagasan menjadikan Borobudur sebagai inspirasi untuk menarik ‘gerbong’ sektor lainnya, tentu akan memiliki dampak besar pula. Gagasan ini merupakan angin segar yang memberi harapan kita bangkit di tengah pandemi.

Tiga hal penting yang harus dilakukan dalam pelestarian cagar budaya, yaitu perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan. Ketiga hal tersebut secara keseluruhan harus dirangkum dalam sistem pengelolaan yang baik.

Dengan dasar pemikiran itu, Candi Borobudur dimungkinkan menjadi subyek yang membawa setiap orang menjadi lebih empati, produktif dan kreatif.  Sehingga candi ini akan bisa kembali menjadi sumber inspirasi, ilmu pengetahuan, spiritual, kultural dan religiusitas.

Drs. Teten Masduki (Menteri Koperasi dan UKM RI):

Sound of Borobudur telah dimainkan dengan sangat megah, fenomenal, dan menggetarkan jiwa. Ini sangat bagus untuk membangkitkan semangat bangsa, bahwa sejak abad ke-8 kita sudah menjadi pusat musik dunia.

Menurut saya Sound of Borobudur memiliki potensi luar biasa untuk hadir sebagai lokomotif kebudayaan nasional, akarnya sudah jelas, dan mampu menyuarakan pada dunia. Dari sini terlihat posisi Sound of Borobudur yang sangat strategis, memunculkan awareness, kebanggaan, membangun peradaban, dan akan berdampak ekonomi.

Bayangkan apabila alat-alat musik dari Borobudur ini dipasang di seluruh kedutaan besar kita di seluruh dunia. Tentu Sound of Borobudur akan dibaca dunia sebagai salah satu potret keluhuran dan ketinggian budaya nenek moyang kita. Sound of Borobudur akan menjadi jiwa bagi Borobudur itu sendiri

Saya akan ajak Sound of Borobudur untuk tampil tahun depan dalam kegiatan internasional, di mana Indonesia akan menjadi tuan rumah di Forum G-20.  

Kementerian Koperasi dan UKM siap berkolaborasi untuk mendorong dan mengawal Sound of Borobudur dalam membawa perubahan ekonomi, khususnya bagi masyarakat di sekitar Borobudur.

Nuryanto (owner Omah Mbudur, tanggapan):

Dari apa yang telah saya pelajari melalui berbagai diskusi di kegiatan ini, saya berencana akan segera memproduksi alat-alat musik Sound of Borobudur ini dalam bentuk batik.

Purwa Tjaraka (Sound of Borobudur):

Selama ini kita ternyata banyak melakukan sebuah kesalahan besar dalam memaknai Candi Borobudur. Borobudur ini ibarat sebuah perpustakaan raksasa, namun selama kita hanya sibuk berpotret di muka rak bukunya saja, namun tak pernah membuka dan mempelajari koleksi buku-bukunya yang sangat lengkap.

Membunyikan Borobudur tidak harus dalam konteks lagu daerah. Sound of Borobudur tidak sama dengan Song of Borobudur, dan bukan pula music of Borobudur.

Ini butuh cara yang sistemik, holistik dan membumi. Bagaimana masyarakat menjadi penerima manfaat, bukan hanya sebagai masyarakat service, mereka perlu didorong untuk menjadi masyarakat produksi, di mana peran UKM menjadi sangat penting,

Sound of Borobudur diharapkan mampu menunjukkan jati diri bangsa dan menguatkan karakter sebagai bangsa yang berdaulat, dan semoga bisa memberi kontribusi yang signifikan untuk bangsa dan negara

Bagi saya, Iik (Trie Utami), dan Bujana, Sound of Borobudur ini sudah bukan lagi kami mencari panggung, tapi ini adalah memberi sebuah gagasan. Yang punya aset adalah negara, maka kita harus berkontribusi.

Dewa Budjana (Sound of Borobudur):

Ini adalah kerjaan gila, Mbak Iik (Trie Utami) itu memang suka ngasi masalah. Borobudur itu gambar, relief, yang coba dibunyikan. Awalnya Mbak Iik mengenalkan saya dengan alat musik Borobudur bersama Jaringan Kampung Nusantara.

Bagi saya, Sound of Borobudur adalah sebuah tantangan dan niat baik untuk bangsa ini. Saya cukup puas, setelah 5 tahun kami berproses diawali dengan komposisi-komposisi yang kamipun saat ini sudah lupa, dan bersyukur bahwa sekarang Sound of Borobudur telah berkembang menjadi seperti ini

Ada ratusan alat musik yang tergambar di relief Candi Borobudur. Diantara alat musik itu juga ada yang bukan dari Jawa, melainkan dari Kalimantan, bahkan ada yang dari Thailand atau India.  Dari situ kami menduga, dulu Borobudur merupakan pusat seni dunia.

Atau kalau tidak, disini merupakan pusat berkumpulnya seniman-seniman dari seluruh dunia, dengan alat-alat musik yang berbeda. Mungkin zaman dulu di sini pernah ada konser besar seluruh dunia.

Mengenai bunyi pada tiap-tiap alat musik ini, memang kami interpretasikan, karena kita nggak tau dulu bunyinya bagaimana, atau bahannya apa. Kita hanya tau bentuknya. Kami melihat dari gambar relief, diwujudkan, baik secara bentuk maupun skala.

Pada awal berproses antar musisi, kami menyepakati dulu tuning-nya, kemudian dibuatlah dalam notasi not balok untuk memudahkan orang-orang lain dalam memainkannya. Namun dalam berproses ini, kami berkreasi dengan kesensitivan tinggi, akhirnya Mas Purwa lah yang memandu, menjaga alur.

Bagi saya, Jawa itu sentralnya adalah Borobudur. Maka, melalui Sound of Borobudur ini bukan hal yang mustahil untuk mengembangkannya menjadi pusat musik. Partitur sudah ada, dari Mas Purwa, di Jawa Tengah sudah ada beberapa sekolah musik, tinggal disinergikan saja.

Trie Utami (Sound of Borobudur):

Bagaimana Borobudur berbunyi dulu, berdentang, dan bergema. Itulah target kami lima tahun kemarin ini. Tentu masih banyak PR, dan masih banyak yang harus dibenahi serta disempurnakan.

Tuning yang ada pada instrumen ini tidak baku, hanya sebagai kesepakatan bersama untuk bisa memulai membunyikannya pada saat ini. Jadi alat-alat ini sangat terbuka kemungkinannya untuk dimainkan dengan berbagai tuning, dan berbagai re-interpretasi.

Adanya interpretasi, dan bukan preservasi seperti museum. Namun kajian masa lampau tetap dibutuhkan untuk menjadi basic berpikir, agar dapat diolah selanjutnya secara kekinian.

Saat ini relief Borobudur sudah berbunyi. Ini baru permulaan. Sound of Borobudur adalah lokomotif. Lokomotif ini bukan di museum tempatnya, tapi di rel kereta api. Dan untuk membaca masa depan, maka kita harus tahu dulu apa yang terjadi dan ada di masa lalu

Setelah 13 abad berlalu, gerakan Sound of Borobudur mengantar pulang alat-alat musik ini kembali ke “rumah”nya. spirit dan revitalsi candi borobudur sudah direkonstruksi dan di-re-interpretasi kekinian. Di mana keberadaan entitas Sound of Borobudur ini nantinya harus dapat dinikmati oleh masyarakat di kawasan di mana Borobudur berdiri. Caranya adalah dengan bekerja sama, dan kerja bersama-sama.

Kami ini menemani masyarakat desa, sebagai fasilitator utk desa-desa. Menyambungkan situasi riil di lapangan dengan jejaring stakeholders terkait. Masyarakat harus jadi pelaku, bukan sekedar jadi penonton, harus terjadi tumbuh bekembang secara bottom-up dan tidak hanya menjadi program top down.

Turunan dari program ini, khususnya yang untuk masyarakat langsung, adalah adanya kurasi produk-produk  dalam berbagai level grade, karena sebetulnya sangat banyak ceruk-ceruk produksi yang mendorong dan mendukung sektor pariwista.

Prof Melani Budianta (Pakar Ilmu Budaya, Universitas Indonesia):

Sound Of Borobudur adalah sebuah upaya membunyikan artefak fisik yang sunyi, di mana kita berusaha menghadirkan kembali soundscape masa lalu di masa kini, dengan interpretasi yang sesuai jamannya. Proses yang dilakukan selama ini adalah riset, interpretasi, dan imajinasi kreatif, penyelarasan antara nilai yang “digali” yaitu kebersamaan dalam keberagaman, interaksi saling-silang budaya, dan aspirasi ke depan, melalui tahapan-tahapan proses: identifikasi alat musik, rekonstruksi ulang alat, mengimajinasidengarkan soundscape masa lalu, dan menghadirkan musik dalam dunia masa kini.

Saya melihat istilah pusat musik dunia ini sebagai salah satu pusat, yang plural, bukanlah model ada pemusatan dan ada peminggiran. Seperti halnya ada istilah pusat-pusat musik dunia, seperti London sebagai pusat musik rock, Nashville sebagai pusat musik country, Wina Austria sebagai pusat musik klasik, New Orleans sebagai pusat musik jazz, Paris sebagai pusat world music, Havana sebagai pusat musik rumba, Seoul sebagai pusat musik K-pop, Seattle sebagai pusat musik grunge, dan Berlin sebagai pusat musik orkestra.

Sementara kalau kita melakukan pemetaan pada musik tradisional di nusantara, kita akan menemukan data-data yang ironis, seperti ternyata di Inggris ada sekitar 150 kelompok gamelan, di San Deigo Amerka ada 200 kelompok, Munchen Jerman dikenal sebagai gamelan city of the world. Bagaimana dengan kondisi kesenian gamelan sendiri di Indonesia?

Kondisi ini bisa terjadi karena adanya warisan poskolonial dalam tatanan kapitalisme global, di mana terjadi hegemoni arus budaya global, sekaligus paralel dengan tergerusnya arus budaya lokal

Karenanya kita harus kembali membangun konsep lumbung. Lumbung budaya nusantara, seperti gerakan pemajuan kebudayaan desa, kampung, dan komunitas, identifikasi dan penggalian potensi budaya lokal, memanfaatkan kekayaan bidaya utk kepentingan masa kini (dimutakhirkan), regenerasi, menjadikan modal budaya sebagai sumber kehidupan dan penghidupan secara kolektif, pengorganisasian dari bawah, partisipatif, dan inklusif, serta memposisikan “identitas” dan arah pengembangan ke depan.

Dalam hal identitas budaya, Borobudur milik siapa…?  Borobudur adalah aset dunia, bukan saja milik nasional, bagaimana kita tidak sekedar membangun kebanggan nasional dan dimiliki untuk diri sendiri (chauvinistis), kita harus menggali jejak dinamika lintas budaya, menembus batas2 negara dan bangsa, serta memiliki pemahaman bahwa pusat bukan berarti memusatkan kuasa, melainkan menjadi sentra persilangan yang dinamis dan inklusif.

Borobudur adalah sebuah lumbung budaya nusantara yang menyimpan berbagai macam sumber daya, untuk dunia, bukan hanya untuk kita. Tapi ini semua harus dikerjakan dengan inklusif, kolektif, dan bergotong-royong, bersifat universal, serta tidak terkotak agama dan etnis.

Nurkhotimah, MA. (Arkeolog, Universitas Gajah Mada):

Di candi Borobudur, relief tentang alat musik terukir pada 44 panel relief , dengan rincian yaitu 10 panel di relief Karmawibhanga, 3 panel di Lalitavistara, 17 panel pada relief Jataka-Awadana, dan 14 panel di relief Gandawyuha.

Relief tentang alat musik di Borobudur ini adalah yang terbanyak, bila dibandingkan dengan relief-relief alat musik yang ada di situs-situs yang lain yang ada pada masa yang sama, baik di Indonesia maupun di dunia.

Relief alat musik, arca, dan prasasti adalah identitas peradaban Mataram Kuna. Dalam konteks musik, ada beberapa peranan penting  dari musik saat itu, pertama sebagai sarana keagamaan, spiritual dan religi,  kedua sebagai hiburan, dan ketiga adalah sebagai sarana ekonomi untuk mencari nafkah. Dalam prakteknya, bunyi-bunyian ada juga yang memiliki fungsi-fungsi meditasi, penyembuhan.

Pada masa leluhur kita hidup tiga belas abad yang lalu, musik seringkali menjadi sebuah persembahan kepada alam semesta. Saat itu perkembangan musik bergeliat pesat, musik menunjukkan jati diri humanis, harmonis, dan romantis, serta musik sebagai alat persahabatan. Musik juga menjadi lambang persatuan antar berbagai kalangan dan komunitas.

Drs. M. Dwi Cahyono, MHum (Arkeolog dan Sejarahwan, Universitas Negeri Malang):

Referensi Belanda Jaap Kunst (1968, tabel C hal 121): terdapat informasi panel-panel mana yang memuat data tentang musika (ada 104-108 panel, ada beberapa panel yang meragukan, kira-kira ada 1/10 dari seluruh panel), dalam satu panel bisa terdapat belasan relief, dan ada 200 lebih alat musik yang tergambar di panel.

Dalam relief-relief ini terlihat jumlah yang cukup banyak dan beragam, dari alat musik pukul, alat musik tiup, alat musik dawai, dan alat musik membran. Di mana terdapat sekitar 40-an panel yang menggambarkan tentang ensamble musik.

Bodobudur adalah sumber data artefaktual tertua yang terbanyak menggambarkan orkestrasi musik, dan beragam (kompleksitas). Dari relief-relief di Borobudur terlhat bagaimana interaksi pemusik dan audiens, disajikan dalam kegiatan di pasar, atau dalam upacara

Data musika pada Borobudur dibuat pada era Mataram Kuno (Dinasti Syailendra dan Dinasti Isanawangsa). Pada peradaban masa lampau, di dalam peradaban ada kesenian, di dalam kesenian ada musik. Citra musika yang dihadirkan Borobudur adalah pada skala makro.

Borobudur tidak hanya menggambarkan musika Jawa Tengah, tapi nusantara, banyak kesamaan-kesamaan dengan alat musik yang tersebar di Nusantara, bahkan Waditra musika nusantara lintas masa

mamiliki citra musika yang makro, palng tidak makro asia (asia selatan, khususnya: India dan Cina), juga di Afrika dan Pasifiik.

Maka, saya cukup setuju dengan hipotesis bahwa Bborobudur pada masanya merupakan sentra musika dunia. PR-nya adalah bagaimana hal itu semua ditransformasikan ke masa kini.

PR yang masih tersisa adalah bagaimana potensi musika Borobudur bisa dipetakan lebih detil, dari sisi jenis alat musik (pukul,tiup), dari sisi fungsi (untuk upacara, untuk bersyukur, dll), dari sebaran alat musik yang masih ada hari ini, dari hal kesinambungan dalam hal bentuk, dari hal kesinambungan dalam hal teknik membunyikan dan notasi, serta kesinambungan dalam hal fungsi.

Drs. Haryanto, M.Ed, (etnomusikolog dari ISI Jogja):

Secara etnomusikologi, instrumen musik dikatakan serumpun apabila terdapat kemiripan dalam nama,  bentuk (organologi), fungsi, teknik, ataupun tangga nada. Contohnya pada instrumen petik Kecapi di Kalimantan Tengah, Kacaping di Makasar, Hasapi di Batak, Kudyapi di Filipina.

Pada instrumen gong melodi, ada contoh-contoh alat musik Kelintang dari Kalimantan Timur, Kulintang dari Filipina, Kolintang dari Sulawesi Utara, Kyomong dari Kalimantan Barat, Kromong dari Betawi, Trompong dari Bali.

Dari observasi pada relief seni pertunjukan yang terdapat pada Candi  Borobudur, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada masa itu terdapat dua bentuk pertunjukan, yaitu yang bersifat  profane dan religious, profane dilakukan oleh jenis instrument petik dan tiup, sedangkan religious dilakukan oleh jenis instrumen perkusi. 

Terdapat hubungan antara Borobudur dengan kebudayaan lain, seperti, Timur Tengah, India dan Asia Timur, yang dapat ditunjukan oleh keberadaan alat musik seperti mouth organ, lute dan suling horizontal

Dua jenis alat musik sebagai kunci penelusuran sejarah laras hingga sekarang hanya ada pada masyarakat Dayak di Kalimantan.

Pada saat itu masyarakat telah mengenal 5 nada yang ditunjukan dalam permainan alat musik tiup harmoni yang menggunakan 6 pipa bamboo yang memiliki rumpun dengan: khaen di Vietnam dan Laos, sho di Jepang, sheeng di China, engkrerurai di Serawak, sompotan di Sabah, keledik, kadede, kedire, keroni burong, gerdeg di Kalimantan.

Hasil dari penelusuran awal dengan bukti-bukti yang ada sampai sekarang seperti: organ mulut, lute dan nyanyian-nyanyian kuna membuktikan bahwa tangganada padantara atau anhemitonic pentatonic salah satu tangganada yang digunakan pada waktu itu.

Dr. Lono Lastoro Simatupang, MSi. (antropolog dari Universitas Gajah Mada):

Warisan itu adalah kata kerja. Apa yang didapat itu bukan final, tapi awal atau modal untuk membangun suatu gerakan, dengan menggali dari akar masa lalu, baik yang berupa tangible maupun intangible, dan lintas bidang, lintas disiplin ilmu.

Watak dari warisan adalah tidak semula jadi (given), melainkan dijadikan (made), hasil pemilihan dengan berbagai pertaruhan (politik, ekonomi, budaya, agama, ilmu pengetahuan), warisan adalah kinerja warisanisasi (heritagization), ini bukanlah soal penetapan, tetapi lebih perihal perlakuan istimewa terhadap warisan.

Bahwa warisan itu menyambungkan antara masa lalu dan masa kini, sementara warisanisasi adalah kerja adaptasi dan transformasi dalam konteks masa kini, di mana Sound of Borobudur menjadi sebuah gerakan yang membangun kolaborasi lintas disiplin, yang mewariskan sebuah semangat.

Siapa pewaris Borobudur? Kepemilikan budaya tidak sama seperti hak milik properti. Budaya diwariskan untuk dibagikan dan menjadi milik bersama. Maka pewaris adalah siapa saja yang menempatkan Borobudur sebagai sumber daya hidup saat ini

Dalam hal persoalan kepemilikan budaya, ketika gamelan dimainkan seluruh dunia, apakah kita akan kehilangan identitas…? Jawabannya adalah bisa “tidak” dan bisa “iya”. Jawaban “Tidak” jika ini adalah sebagai diplomasi bunyi, tapi “iya kita akan kehilangan” jika ternyata di Indonesia sendiri kita tidak merasa memilikinya.

Mayjen TNI (Purn) Imam Edy Mulyono (Dubes RI untuk Venezuela, tanggapan):

Dalam pentas diplomasi Borobudur sudah diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Warisan tangible sudah jelas, secara fisik terlihat. Sementara warisan intangible sebetulnya tidak ada habisnya kalau kita gali, dan seharusnya bisa menjadi daya hidup untuk mereka yang mewarisinya.

Bisa jadi borobudur ini memang sebuah super komputer untuk mengarsipkan seluruh pengetahuan yang dimiliki di dalam relief-reliefnya. Baik yang bersifa musikal, maupun pengetahuan-pengetahuan yang lain. Termasuk dalam hal pengetahuan-pengetahuan astronomi. Mungkin kita saja yang belum bisa menerjemahkan dan memahaminya.

Hal sejenis juga ditemukan di beberapa negara di Amerika Selatan. Ada kecerdasan-kecerdasan yang tinggi, yang hari ini kita sudah kehilangan.

Dalam  segi diplomasi, budaya, termasuk musik, menjadi sesuatu yang cukup penting untuk menjadi media dalam membangun persahabatan antar bangsa.

Prof. Dr. M. Baiquni (pakar Geografi, Universitas Gajah Mada, tanggapan):

Melihat Borobudur dari berbagai elemennya, saya tertarik tentang The geography of sounds, suara-suara dalam konteks geografi, di mana di negara kita yang kepulauan ini banyak ragam yang unik dan menarik.  

Borobudur sering dilihat sebagai sebuah magnet. Dalam fisika ada gaya sentrifugal dan gaya sentripetal, yang perlu dimainkan. Jika hanya melihat Borobudur sebagai magnet, maka dia adalah materi, yang bila dibelah sampai detail maka akan ketemu atom

Dalam konteks gaya sentrifugal dan sentripetal itu, kita harus memadukan kekuatan itu melalui berbagai eksplorasi dan aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat. Sentripetal itu gaya yang menarik ke dalam, dan sentrifugal itu gaya menarik ke luar.

Bila dihubungkan dengan satu gerakan-gerakan yang kita untai dalam kumparan-kumparan peradaban, baik masa silam maupun dalam konteks sekarang. Maka kita bisa menghasilkan suatu cahaya, yaitu listrik. Mengubah daya magnet, menjadi gelombang, listrik, dan menjadi cahaya.

Dalam konteks the geography of sound, kita bisa melihat adanya adaptasi dari masa ke masa, untuk mendengar suara alam, angin, air, dan bunyi-bunyian yang ditabuh dari batu, kayu, dst, sehingga menghasilkan perkembangan-perkembangan hal semacam ini.

Dari riset kecil yang pernah saya lakukan, ternyata ada beberapa dimensi, pertama dimensi materi, berupa artefak atau tangible, sesuatu yang nampak dan bisa kita lihat secara fisik turun-temurun sampai sekarang, tapi ada juga dimensi gelombang, suara, atau hal-hal yang kita bisa sadap atau cerna dari berbagai cara melalui interpretasi yg hari ini kita bahas.

Naik ke teori cahaya, kita ini menggunakan fisik, yaitu alat-alat yg kita gunakan, kita pancarkan dengan gelombang, kita tangkap dengan cahaya. Teknologi yang kita perlukan adalah dari alat-alat, bunyian, sampai makna atau manfaat dari musik ini akan memberikan kontribusi yang signifikan pada perkembangan di masa depan.

Secara geografi Borobudur terletak di lembah di antara dua pegunungan yang subur. Melihat Borobudur sebagai suatu bentuk, tapi juga ada makna dan manfaat, menjadi berbagai hal perlintasan yang akan kita tata sebaik-baiknya, yang tentunya mungkin akan ada dialektika dan perbedaan pemahaman, itu bagian dari proses interaksi.

Musik atau suara sebagai medium untuk mentransformasikan, dari materi atau badan kita atau artefak, menuju gelombang cahaya. Antara nalar, naluri dan nurani, kita bisa lakukan interaksi bersama-sama, bahwa ketika kita membahas alat musik, itu semua juga mengandung materi, gelombang, dan cahaya.

= = = = = = = = = =

Alat-alat musik lintas daerah dan lintas bangsa:

Sebagian alat-alat musik yang terpahat pada panel-panel relief di candi Borobudur, masih ada sampai hari ini dan dimainkan di berbagai penjuru Nusantara dan beragam belahan dunia, sebagai bukti kebesaran peradaban leluhur bangsa Indonesia. Alat-alat musik tersebut antara lain adalah:

Ranat Ek (Thailand), Balafon (Gabon), Marimba (Congo/Tanzania), Garantung (Indonesia), Mridagam (India), Ghatam (India), Udu (Nigeria), Bo (China), Bhusya (Nepal), Darbuka (Egypt), Tifa (Indonesia), Small Djembe (Mali/West Africa), Traditional Drum (Srilanka), Muzavu (Tamil), African Drums, Tabla (India), Kendang (Indonesia), Conga (Latin America), Pipa (China), Setar (Iran), Oud (Saudi Arabia), Biwa (Japan), Lute (English), Ud (Turkey), Bowed String (Italia), Dombra (Kazakhstan), Saung Gauk (Myanmar), Ngobi (Algeria), Sakota Yazh (Tamil), Kora (Gambia), Ekidongo (Uganda), Harp, Zeze/Lunzenze (Kenya), One String Zither (Peru), Kse Diev (Cambodia), Kwere (Tanzania), Sheng (China), Saenghwang (Korea), Keledik/Kedire (Indonesia), Shio (Japan), Traditional Flute (Europe), Bansuri (India), Medieval Flute (Germany), Daegum (Korea), dan Suling (Indonesia).

penulis : Bachtiar Djanan (tim sound of borobudur)

2 Responses

  1. Ini adalah sebuah gagasan dan gerakan luar biasa tentang arti “berbangsa dan ber budaya “, di tengah bising dan derap pacu modernisasi , sound of Borobudur menjadi sebuah telaga budaya yang kembali menyadarkan kita tentang pentingnya sebuah identitas bangsa. Saya, dan mungkin teman sebaya, atau bahkan generasi baru bangsa ini harus mengakui bahwa saat ini kita secara perlahan mulai mengalami abrasi jati diri sebagai manusia Indonesia. Bukan sedang berhalusinasi di pagi hari. Atau efek Caffein kopi sya pagi ini, tetapi cobalah kita membangun sebuah pola pikir bahwa sebesar apapun kita bangga tentang keindahan alam yang kita miliki di Indonesia, itu tidak akan ada artinya jika di belahan bumi yang lain juga memilikinya. betapapun besar nya kebanggaan kita kepada keindahan gunung dan pantai di Indonesia, itu tidak akan ada artinya jika negara lain yang juga memiliki gunung dan pantai. Bahkan, sangat mungkin lebih indah daripada gunung dan pantai di Indonesia. Tetapi, hal ini tidak berlaku pada “budaya”. Sekali lagi salute buat gerakan “sound of Borobudur” harapan ke depan dengan adanya ini, Borobudur tidak lagi hanya dianggap hanya sebagai tempat ibadah umat Budha saja , atau hanya sebagai objek wisata. Dan bahkan mungkin hanya dianggap sebagai tumpukan batu purbakala saja. akan tetapi dengan adanya sound of Borobudur, akan memunculkan kesadaran budaya bagi kita semua dimana Borobudur adalah sebuah mercusuar budaya Asia tenggara yang ada di Indonesia yang wajib kita jaga dan lestarikan ,harapan nya, ke depan tercipta generasi bangsa yang cinta tanah air, dan bangga dengan menjadi “ indonesia..”
    Sukses terus buat sound of Borobudur .. dan buat penulis artikel nya… salute and respect ..
    “ semangat pagi buat semesta raya “

Leave a Reply to Downey themaspoh Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *