SOUND of BOROBUDUR, Gerak Musik dan Gerak Bangsa“Revitalisasi : Rekonstruksi – Reinterpretasi – Reaktualisasi”

SOUND of BOROBUDUR, Gerak Musika dan Gerak Bangsa

“Revitalisasi : Rekonstruksi-Reinterpretasi-Reaktualisasi”

 

Ditulis oleh : Trie ‘iie Utami 

 

Tulisan ini adalah cerita perjalanan dari sebuah mimpi dan keinginan yang kemudian berubah menjadi gagasan yang diperjalankan dengan penuh suka duka. Sebagian besarnya adalah pendapat pribadi, dan sebagian besar lainnya adalah kisah tentang sebuah jalan panjang yang sepi dan tak banyak pula yang bersedia menemani, karena apa yang dilakukan adalah sesuatu yang nampak sangat besar namun besar juga kemungkinan untuk tidak berhasil dicapai. Tapi cinta, rasa hormat dan keinginan yang kuat telah mempertemukan berbagai tujuan di tengah jalan sunyi itu. Sekarang, perlahan cerita ini mulai dapat disampaikan, sebagai awal dari sebuah babak baru, di ujung perjalanan angan-angan. 

Sejak kecil di dalam benak saya ada banyak pertanyaan : Siapa bangsa kita? Bagaimana bangsa kita itu? Seperti apa bangsa kita dahulu? Apakah benar nenek moyang kita terbelakang? Tidak beradab? Primitif? Bodoh? Lalu pada satu saat saya sendiri yang menjawab : TIDAK. Kita adalah keturunan bangsa yang beradab dan berbudaya. Apa buktinya? Mari, kita tengok dan mulai menyapa sejarah, lalu perhatikan warisan ini dengan baik, bongkar semua catatan perjalanan bangsa lain yang sudah pernah singgah dan belajar pada nenek moyang kita, pelajari apa yang mereka catat tentang leluhur kita sejak puluhan abad lampau. Jika leluhur kita bukan orang-orang pintar yang berhasil membangun sebuah tatanan peradaban, mustahil bangsa-bangsa lain sudi singgah dan menuntut ilmu disini, di tanah tempat kita berdiri, di suatu wilayah dimana kita sekarang berkehidupan-bermasyarakat-berbangsa dan bernegara, wilayah Bhinneka yang berabad kemudian bernama Indonesia.

 

Lantas, apa kewajiban kita sebagai keturunan dari nenek moyang yang sejak dulu wilayahnya konon disinggahi oleh bangsa-bangsa lain di dunia? Apa yang sepantasnya kita lakukan dengan segala warisan yang berkelimpahan ini? Demikian banyak peninggalan masa lampau yang sampai hari ini masih dapat dilihat, diraba dan dipelajari dan ternyata tidak tertutup kemungkinan segenap tinggalan itu kembali kita wujudkan dalam konteks kekinian. Karena, terjadinya suatu transformasi atas nilai dan spirit dari berbagai bentuk warisan tersebut hanya dapat mewujud bila kita melakukan suatu proses kerja, dari gagasan menjadi tindakan, dari ide menjadi bukti. Mulai dari hal yang paling sederhana sampai ke tingkat yang paling rumit, selama kita mau belajar dan berupaya, usaha itu merupakan suatu proses pembudayaan yang berlangsung terus menerus. Sesederhana apapun hasil dari kerja itu, adalah bagian dari proses berkebudayaan kita sebagai manusia Indonesia. 

 

Siapa saja yang diperkenankan untuk meneruskan, memanfaatkan dan menghidupkan kembali nilai, spirit serta segenap rupa bentuk yang diwariskan kepada kita? Siapapun, dalam kegiatan apapun, sejauh dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan bermanfaat bagi masyarakat luas, tentu saja boleh dilakukan oleh setiap komponen dan elemen bangsa ini. Menjadikan Borobudur sebagai  benchmark dan titik pacu kreatifitas adalah salah satu contoh, bagaimana kita dapat melihat, meraba, mengakses, mempelajari dan menggagas sebuah kegiatan konkrit dalam upaya transformasi dari sebuah warisan peradaban yang merupakan tinggalan masa lalu menjadi kegiatan yang berdampak optimal di masa kini.

Kami, adalah sekelompok musisi yang mencoba membunyikan catatan peradaban itu melalui seni, khususnya musik. Kami mendapati adanya alat-alat musik di pahatan dalam panel-panel relief candi, sedikitnya terpahat 45 jenis alat musik yang sebarannya pada hari ini meliputi 34 provinsi di Indonesia, dan minimal 40-an negara di seluruh dunia. Bahkan, kami menemukan banyak relief yang menggambarkan suatu ansambel musik yang bermain bersama dalam satu panel. Lengkap dan modern, memenuhi segenap persyaratan sebagai musik modern : ada cordophone, ideophone, Membranophone dan aerophone. Dengan demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa minimal pada abad 8, bangsa ini sudah mengenal komposisi, aransemen, progresi, dan segenap aspek musikal yang cukup modern. Jika bangsa Eropa menyatakan kemajuan peradaban melalui sistem orkestra pada musik ansambel diabad 14, maka bisajadi bangsa kita sudah mendahului mereka 700 tahun sebelumnya..!!!

 

Ada 17 jenis dawai atau alat musik petik yang harus dibuat ulang, semuanya disesuaikan dengan gambar yang terpahat di dalam relief candi Borobudur. Juga ada beberapa macam alat tabuh dari gerabah dan beberapa jenis perkusi. Proses rekonstruksi tidak sekali jadi, 3 buah dawai tahap pertama yang dibuat pada tahun 2016 harus kami perlakukan sebagai dummy, yang kemudian harus diperiksa ulang dari segi organologinya. Pada akhirnya di tahun 2018, ketujuhbelas model alat musik berdawai tersebut dibuat oleh seorang Luthier profesional, agar kami mendapatkan dawai dengan standarisasi Concert Grade. Demikian pula dengan alat musik berbahan gerabah, mencari ketebalan yang pas dengan kepantasan bunyi dan tonalnya membutuhkan waktu yang cukup lama, jika terlampau tipis hasilnya pecah dan gagal dibakar,  terlampau tebal juga tidak mungkin, apalagi ketika gerabah berbentuk guci pendek itu harus dipasangi membran pada mulutnya.

 

Selebihnya, untuk alat musik yang masih ada, kami mencari persamaan jenis dengan ratusan instrumen musik lain di seluruh pelosok Nusantara. Sampai akhirnya sekarang, untuk sementara waktu sudah terkumpul sekitar 195-an alat, yang saya yakin masih akan terus bertambah sesuai dengan temuan-temuan selanjutnya. Ternyata, walaupun sudah berselang 13 abad – seribu tiga ratus tahun -, masih banyak sekali alat-alat musik yang masih eksis dan dipakai sampai hari ini, baik di Indonesia maupun di dunia. Bentuknya relatif masih sama, atau minimal berkembang dari suatu bentuk yang dapat dikatakan serupa dengan pahatan masa silam di candi Borobudur.

 

Perjalanan Sound of Borobudur cukup panjang dan tidak mudah, dengan intensitas tinggi selama 5 tahun kami mulai dengan membuka diri, belajar, meneliti relief, membolak balik skripsi tentang alat musik di candi Borobudur, membaca banyak buku, menelusuri berbagai jurnal ilmiah dari dalam dan luar negeri, membuat berbagai komparasi, membuat mind mapping, membangun skema sebaran budaya, mencari alat-alat musik yang masih ada di 34 provinsi, berdiskusi dengan banyak orang, mencari segala macam informasi, merekayasa ulang dan membuat alat-alat musik yang dianggap sudah punah, mengumpulkan seniman-seniman yang satu pikiran dan punya semangat yang sama, berkumpul dan menata ulang interpretasi bunyi, membuat komposisi, merangkainya dalam sebuah aransemen, berlatih bersama, merekam audio satu persatu, membuat video clip dan pada akhirnya kami dapat bersama-sama membunyikan dentang gentha ini ke seluruh pelosok negeri. Para musisi ini benar-benar berangkat dari wilayah kosong tanpa referensi, dengan alat musik yang baru, bunyi baru, tuning baru, rasa baru dan pengalaman baru. 

 

Ada yang bertanya : alat musik dawai ini namanya apa? Nah, kita juga tidak tahu persis namanya satu persatu. Namun, sejauh yang sudah kami telaah dari prasasti-prasasti yang sejaman, juga kami cari dari berbagai catatan dan jurnal ilmiah dari para arkeolog dunia, Cordophone atau alat musik berdawai disebut dengan WINA atau MANDELI dalam kategori TATA VADYA, gendang tanah liat  atau sound pot disebut MRDANG, kenong-bonang atau talempong disebut BREKUK, ceng ceng atau simbal disebut REGANG, alat tiup dalam kategori SUSHIRA VADYA, alat-alat tiup itu biasa disebut WAMSI atau BANGSI, alat tabuh dengan membran adalah kategori AVADANA VADYA dan alat-alatnya biasa disebut MURAWA, KENDANG, PATAHA, PADAHI, dawai dengan bentuk harpa disebut WINA RAWANA HASTA, Instrument kategori ideophone disebut GHANA VADYA, dan lain-lain. Semua serba tidak pasti, sebab nama dalam prasasti tidak menyertakan gambar bentuk dan spesifikasi alat.

awal sosialisasi SOB Trie Utami ,Indro Kimpling,Bachtiar Djanan,Redy Eko Prastyo keliling desa-desa di wilayah borobudur

Lalu ada juga yang bertanya : apakah yakin bunyinya seperti itu? Yakin komposisinya seperti itu? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu saya kembalikan : adakah yang pernah merekam komposisi ansambel musik pada abad 8 ini? Artinya, kita sama-sama tidak tahu. Dan saya yakin tidak satupun orang di masa kini yang pernah mendengarnya secara langsung, atau minimal memiliki data audionya. Kita hanya mampu mengakses kemungkinan-kemungkinan yang timbul akibat dari bentuk dan ukuran yang diambil dengan skala gambar pada relief. Dan segala kemungkinan itu tentu saja bisa berubah, bergeser atau berkembang sesuai dengan situasi, kondisi atau data baru yang menyertainya. 

 

Tapi kami juga sadar, bahwa seni sejak jaman dahulu kala dibangun oleh interpretasi dan sejatinya seni (khususnya musik) adalah sebuah ruang seluas semesta yang bersifat sangat dinamis dan membebaskan setiap orang untuk melakukan proses kreatifnya masing-masing dan setiap karya secara otomatis akan menjadi mata rantai kebudayaan. Dengan demikian, upaya Re-interpretasi ini juga merupakan bagian dari perjalanan budaya, sebuah usaha untuk membunyikan ulang sejarah peradaban dan budaya suatu bangsa. Apa yang kami bangun bukan sekedar musik dan lagu, kami juga tidak bekerja dalam rangka ingin membentuk sebuah grup musik. Sound of Borobudur dalam pandangan kami adalah bunyi peradaban bangsa kita. Dan Sound of Borobudur Movement adalah sebuah gerakan kebudayaan berbasis upaya atas bukti yang tak terbantahkan sebagai tinggalan atas suatu pencapaian yang diwariskan secara berlimpah ruah kepada bangsa ini.

penampilan perdana formasi SOB bersama Didik Nini Thowok dalam Borobudur Cultural Fest 2016

 

Berikut ini adalah beberapa pemikiran yang mendasari cara pandang kami terhadap Borobudur, menjadi titik berangkat dari seluruh kegiatan, tegak berdiri sebagai marka dan rambu yang selalu menjaga rute dan peta jalan yang sudah dan akan ditempuh oleh Sound of Borobudur Movement

 

1. >>> WHAT 

Sound of Borobudur adalah sebuah spirit yang melahirkan geliat dan upaya reaktualisasi dan revitalisasi nilai-nilai luhur yang terpahat dan tersirat di setiap bagan relief dan lekuk candi. Karena sejatinya Borobudur dan kawasan yang melingkupinya adalah sebuah perpustakaan besar, sumber pengetahuan dan sumber data yang mendorong munculnya Sound Of Borobudur Movement.

 

Tergambar dengan jelas bahwa bangsa ini telah memiliki sistem tata nilai luhur kebajikan dan kemanusiaan, yang melahirkan orang-orang berilmu pengetahuan tinggi dan bermoral baik, adanya sistem dan tata kelola masyarakat yang teratur makmur sejahtera, dan sudah terselenggaranya mekanisme tata kelola alam dan tata lingkungan yang bijaksana dan paripurna. Hanya dalam sebuah ekosistem kehidupan yang mapan dan berkelanjutan, bangunan candi beserta kawasan serupa Borobudur dapat dibangun.

 

Demikian nyata bahwa kehidupan yang berazaskan adab – budaya dan spiritualitas (ketuhanan) sudah pernah berhasil dicapai oleh bangsa ini. Sebuah tatanan nilai hidup yang laras dan harmonis, adalah fondasi kokoh dalam kehidupan pribadi setiap orang, telah mengantar mereka menjadi warga masyarakat dalam kehidupan berbangsa, tampil sebagai warga dunia dan memiliki kesadaran sebagai bagian tak terpisahkan dari alam semesta. 

 

Hal tersebut tergambar dalam alur relief di seluruh dinding candi, bahkan hanya dengan mengambil satu aspek saja yaitu musik, Borobudur memperlihatkan dunia, tak cuma Nusantara atau Asia. Bukti yang tak terbantahkan, bahwa keberagaman dan kebhinekaan, hubungan harmonis antar suku bangsa dan tata cipta rasa budaya telah menjadi bagian dari kehidupan nenek moyang bangsa Indonesia. 

 

Segenap tata nilai dan tata kelola kehidupan yang dapat diambil dari keberadaan Candi Borobudur (dan kawasannya) telah menjadi inspirasi utama bagi kelahiran gerakan Sound of Borobudur. Sepatutnya tak hanya melalui alat-alat musik atau rekaman-rekaman peristiwa musikal yang tergambar dalam relief, namun melalui berbagai disiplin ilmu yang terkandung di dalamnya, mulai dari astronomi, fisika, matematika, planologi, ekologi, biologi, geologi, sosiologi, filologi, antropologi, etnomusikologi, arsitektur, arkeologi, sejarah, kebudayaan dan segenap lini pengetahuan lain yang terkait kepadanya secara langsung.

 

Apakah warisan pengetahuan tersebut dapat ditafsir ulang dan diaktualisasikan pada jaman sekarang? Tentu saja, kita tak ingin berhenti pada wacana dan kajian ilmiah, segenap pengetahuan dan tata nilai itu selayaknya dapat diterapkan, dengan syarat adanya upaya pengejawantahan dan pemutakhiran yang analitis dan kritis, serta memiliki nilai kebermanfaatan yang konkrit bagi masyarakat luas. Dibalik segala hal yang terkandung di dalamnya, bagi kami Borobudur ibarat sebuah buku kehidupan yang siap dibuka, dibaca, dipelajari, dipahami dan sangat mungkin untuk diwujudkan kembali. 

 

Diawali dengan terbentuknya kegiatan Sound of Borobudur Orkestra, menggunakan alat musik yang dibuat dengan memakai referensi dari pahatan relief melalui karya musik yang dimainkan oleh musisi-musisi terkenal di Indonesia, seakan menjadi genta yang ditabuh sebagai tanda bangkitnya sebuah kebanggaan atas identitas bunyi dalam wilayah seni. Hanya bangsa yang telah mencapai peradaban luhur, yang mampu menciptakan ansambel musik yang lengkap dengan memakai 4 kelompok sumber bunyi : Membranophone, Cordophone, Ideophone dan Aerophone. Berarti di abad 8, bangsa ini telah mengenal komposisi, aransemen, harmoni, laras (scale atau titi nada) dan dinamika. Kita adalah bangsa yang cerdas dan maju, memiliki daya sambung rasa dan sudah mampu membangun proses akulturasi musikal dalam wilayah kesenian, khususnya musik.

Proses pembuatan dari video klip Sound of Borobudur

 

Dari satu aspek musik saja, dengan memakai bukti-bukti di atas, kita dapat melihat bahwa pada masa itu sudah ada sistem kemasyarakatan, yang berarti juga sudah terselenggaranya sistem tata negara dan hubungan diplomatik antar suku dan antar bangsa di dunia. Dengan demikian tercakup didalamnya, suatu tatanan kehidupan yang teratur mulai dari urusan sandang, pangan, papan, pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, administrasi negara, tata kelola keuangan, sistem tata ruang, mekanisme pengelolaan sumber daya alam (ekologi) dan lingkungan hidup serta capaian spiritual dalam konsep kebhinekaan. HARMONY IN DIVERSITY.

 

Gambar besar itulah yang dibungkus oleh Sound Of Borobudur Orkestra. Dan kini, potret peradaban itu sudah dibunyikan. Menjelma sebagai bunyian estetis yang laras dan harmonis, adalah alarm yang membangunkan kita dari tidur yang panjang. Lokomotif artistik yang siap menarik gerbong-gerbong hipotesa dan gagasan lain di belakangnya, menjadi sumber suara yang resonansinya bergaung tak hanya di Indonesia atau Asia, namun terdengar jelas sampai di pelosok negeri lain. Ia menjadi spirit mata panah kebudayaan yang tajam, untuk kita sendiri sebagai anak bangsa maupun kepada dunia. Bunyi yang menjadi suatu pernyataan diri, berfungsi sebagai diplomasi identitas, menjawab suara jati diri melalui sebuah gerakan moral kebangsaan.

 

Borobudur merupakan monumen peradaban, Sound of Borobudur adalah bunyian peradaban. Bunyi yang bisa dimainkan oleh siapa saja. Ia serupa gelombang spirit yang membangunkan rasa, menggugah batin, membuka pikiran, menggerakkan kesadaran, mendorong semangat dan memacu langkah. Ia dapat menjadi alat untuk melihat kembali siapa kita, bagaimana seharusnya kita bersikap, apa yang sepatutnya kita lakukan, perubahan macam apa yang penting disegerakan dan ke arah mana kita akan menuju. Kembali menjadi bangsa yang cerdas, kritis, beradab, berbudaya dan berketuhanan.

 

 

2. >>> WHO

Borobudur hanya bisa dibangun oleh manusia yang sudah mencapai pengetahuan tinggi, penuh daya cipta kreasi dan memiliki kebudayaan yang luhur. Makahakarya dari orang-orang yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari sebuah bangsa yang memiliki tata cipta rasa dan teknologi yang mumpuni. Para teknokrat yang bercita rasa seni, para ilmuwan yang berkesenian, para seniman yang berpengetahuan dan tentu saja bekerja dengan menggunakan teknologi. Mereka adalah nenek moyang bangsa Indonesia, leluhur kita.

Dengan demikian Borobudur sesungguhnya dapat diakses melalui berbagai disiplin ilmu, oleh siapapun. Sejumlah jurnal ilmu pengetahuan, dari dalam dan luar negeri, sejak abad sebelumnya telah banyak diterbitkan. Silang pendapat tentang sejarah selama berabad-abad terus diperdebatkan, berbagai opini, beraneka ragam asumsi dari sekian banyak rujukan tak kunjung selesai. Sementara itu, di masa kini Borobudur terdiam sebagai bangunan candi yang terbuat dari batu, hanya menjalankan fungsi utamanya sebagai tujuan wisata. 

 

Tak mesti berhenti di atas kertas berisi teori-teori besar, bahkan hanya melalui perspektif budaya dalam praktek-praktek sederhana di keseharian, kita dapat melihat demikian banyak peluang untuk mentransformasikan nilai-nilai yang tersimpan dan tertera di situ. Kreatifitas selalu lahir pada kajian atau tafsir budaya terbuka, karena budaya dan kebudayaan sejatinya bersifat dinamis. Dengan demikian, Borobudur dan kawasan yang melingkupinya bukan hanya milik para ilmuwan dan pelaku/operator wisata, ia tidak dibangun dan ditinggalkan hanya untuk dikunjungi dalam konteks eksploitasi kepariwisataan dan berhenti sebagai objek kajian sejarah masa lalu. 

 

Seluruh bangsa Indonesia adalah pewaris utamanya, penerus tata nilainya, peneguh pengetahuannya dan penterjemah tata kelola hidupnya. Sumber daya pengetahuan dan teknologinya tak terbatas dan tak boleh dibatasi, dan untuk itu keberadaannya harus dapat dimanfaatkan seluas-luasnya bagi kepentingan bangsa dan seluruh manusia. Secara fisik ia dapat dipelajari, nilai-nilai luhur yang dikandungnya dapat diejawantahkan, diterjemahkan dan diwujudkan kembali di masa kini melalui berbagai jalur kreatifitas, ekspresi seni atau produk teknologi, apapun bentuk keluarannya.

 

Borobudur adalah cermin, alat untuk melihat dan memeriksa siapa diri kita. Ia akan memantulkan sosok-sosok manusia yang berkepribadian, mempunyai identitas dan jati diri, berkarakter kuat, wataknya kokoh, tangguh sebagai bangsa, berperilaku baik, beradab, berbudaya, mencapai pencerahan atas ilmu pengetahuan, kreatif dan mampu membangun peradaban. Borobudur adalah monumen peradaban kita, ia tidak dibangun oleh bangsa lain dan Borobudur tidak diwariskan kepada bangsa lain. Namun tata nilai kehidupan, ilmu pengetahuan dan teknologi yang terkandung di dalamnya sepatutnya dapat direfleksikan dan dimanfaatkan oleh segenap umat manusia, di seluruh dunia.

 

Sound Of Borobudur Orkestra sudah mulai mewujudkannya melalui aspek kesenian yang diakses melalui relief bergambar alat musik dan bagian dari panel-panel yang berisi penggambaran peristiwa musikal. Bukti konkrit dari upaya ini sangat mungkin dan dapat difungsikan secara optimal sebagai wajah dan eksistensi bangsa di mata dunia. Hal ini juga membuktikan bahwa dari aspek manapun atau melalui perspektif ilmu pengetahuan apapun, sebuah pencapaian kebudayaan dan tata nilai yang pernah dicapai oleh pendahulu kita dapat diwujudkan pada saat ini, di sini, dimana Borobudur dibangun dan diwariskan kepada kita semua, bangsa Indonesia. 

 

 

3. >>> WHERE

Spirit sebuah kebudayaan tak hanya bisa dicerap dengan satu-satunya cara, yaitu mengunjungi fisik candi. Dengan memakai analogi sumber bunyi dan resonansi, hasil dari reaktualisasi tata nilai dan ilmu pengetahuan di jaman sekarang sangat mungkin dibawa kemanapun dan dapat diwujudkan dimanapun. Pada masa kini, teknologi akan membawa dan menyampaikan resonansi itu ke segenap penjuru tanah air dan menyebar dalam tempo singkat ke seluruh pelosok dunia.

 

Tetapi, tak akan terjadi resonansi tanpa sumber bunyi, tak akan ada pendapat tanpa peristiwa, tak bakal hadir manfaat tanpa adanya bukti. Pembuktian ilmu pengetahuan ada di dalam kegiatan yang memiliki nilai guna yang terukur, baik dan selaras dalam skala ruang dan waktu. Pencerahan atas pengetahuan ada di dalam seluruh gerak hidup manusia, tampak di alur geliatnya, tumbuh dalam aneka ragam adat dan tradisi, muncul dalam berbagai kebijakan lokal dan produk budaya (tangible dan intangible), mencakup segenap aspek kehidupan yang mengikat moral setiap manusia pada lingkungan, adat istiadat, tradisi, bangsa dan negaranya.

 

Spirit Sound of Borobudur dapat hadir dan berbunyi dalam segala aspek kehidupan. Sebagai contoh melalui seni musik saja, ia akan berdampingan erat dengan kajian pada ranah seni kriya, termasuk didalamnya ada teknologi pembuatan alat musik, bahan mentah alat musik terkait ketersediaan material dalam ruang lingkup ekologi, situasi sosial terkait eksistensi seni musik, ekosistem musik di suatu tempat, pencapaian spiritual melalui keberadaan musik di dalam suatu masyarakat, tata laku masyarakat terhadap musik, tata kelola lingkungan berbasis kesenian, penyebaran jenis alat musik, akulturasi antar budaya dan bangsa lewat musik melalui komposisi lagu, bentuk-bentuk progresi dan harmoni, hubungan manusia dengan alam dan lingkungannya yang tercermin dari pola-pola bunyi, bentuk musik dan ragam seni yang menyertainya, kemampuan mengelola dan mengembangkan bentuk ekspresi kesenian, dan lain sebagainya.

Tampilan pada relief candi, hari ini telah menjadi bentuk konkrit pada penampilan Sound of Borobudur Orkestra, lengkap dengan perwujudan dari upaya rekonstruksi alat-alat musik yang dipahat pada panel-panel relief mulai dari Karmawibhangga, Gandawyuha, Avadana Jataka dan Lalita Vistara. Rekaman suara komposisi musik dan rekaman gambarnya dapat melanglang buana, membawa eksistensi Borobudur pergi jauh melintasi banyak benua, mengabarkan kepada dunia tentang dirinya dan menceritakan bagaimana spirit, pengetahuan, teknologi serta nilai-nilai luhur itu tetap hidup di tangan para pewarisnya.

 

Semangat dan karya para seniman dari wilayah seni musik dan kreatifitas para pembuat alat-alat musik ini serta merta terkait dan membawa aspek budaya yang lain, terhubung secara langsung dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung kelangsungan hidup manusia di serata bumi, di belahan dunia manapun ia berada. Bahwa setiap manusia sejatinya adalah pemangku budaya bagi adat istiadat dan tradisinya masing-masing. Berjalan dan menyebar keseluruh penjuru bumi, berinteraksi dan melangsungkan proses akulturasi, membangun kehidupan dalam perubahan dan keberagaman, saling bertukar nilai, berbagi ilmu pengetahuan, mempengaruhi satu sama lain dan saling memanfaatkan dalam kebaikan.

 

Demikian pula dengan spirit dan ruh yang menggerakkan Sound of Borobudur Movement, ia akan berjalan dan menyebar ke segala arah, mencair dan merembes di dalam berbagai bentuk karya, diwujudkan oleh daya cipta pikiran manusia dan dibawa oleh siapa saja yang terbangun, bangkit dan bergerak. Guna menyusun kehidupan yang lebih baik, tak hanya di Nusantara, tapi di seluruh dunia.

 

 

 

4. >>> WHEN

Rentang 13 abad bukanlah waktu yang sebentar, tetapi seiring berjalannya waktu, semesta dan kehidupan telah merawat mahakarya itu dengan sangat baik. Di masa kini perpustakaan besar bernama Borobudur masih terbuka dan senantiasa siap untuk ditelusuri kembali. Ternyata, waktu silam tak dapat diartikan terbelakang atau kuna, waktu kini juga tak lantas berarti sangat canggih. Dari masa lampau kita menarik banyak nilai dan penemuan (re-inventing), berangkat dari riset dan penelitian kemudian bertransformasi melalui pemutakhiran lalu berubah bentuk dalam wujud kekinian, disertai aplikasi yang selaras dengan jaman.

 

Demikian pula dengan Sound of Borobudur, dimulai dengan upaya eksplorasi selama bertahun-tahun sampai pada tingkat mereaktualisasi dan membuat rekonstruksi gambar alat-alat musik dalam relief, serta membunyikannya dalam komposisi orkestra sebagai reinterpretasi musikal adalah sebuah pernyataan kepada dunia, bahwa rekam jejak lampau tersebut terbukti dapat dihadirkan dan difungsikan kembali secara optimal pada masa kini. Menyertai upaya tersebut, apakah Borobudur sebagai titik temu atau titik sebar dari 45 jenis alat musik itu, memunculkan berbagai pertanyaan dan hipotesa tentang diri kita sendiri sebagai bangsa : apa, siapa, kenapa, kapan dan bagaimana?

 

Berangkat dari pertanyaan yang sama, akhirnya gerakan kebudayaan melalui musik ini menghimpun berbagai kegiatan lain dan kemudian berjejaring pula secara integral para pegiat pendidikan, aktivis lingkungan, pertanian, pelaku seni dan budaya yang lantas bersepakat untuk bekerja bersama dalam satu wadah yaitu Sound of Borobudur Movement. Mereka berkumpul, menyelaraskan pendapat, berdiskusi, berkontribusi ilmu-pikiran-gagasan-waktu dan tenaga, berkejaran dengan berbagai kegiatan, tak kenal lelah. Berbekal kesadaran, semangat untuk saling mendukung, memiliki komitmen untuk menjunjung nilai-nilai luhur kemanusiaan, menggali, membongkar dan meretas ilmu pengetahuan yang telah diwariskan nenek moyang bangsa ini dan mewujudkannya dalam berbagai kegiatan yang nyata.

 

Semuanya sepakat dan berangkat dari persepsi yang sama, berbekal spirit dan inspirasi yang serupa : jika bukti sejarah tak terbantahkan dan dapat diwujudkan kembali, apa lagi yang kita tunggu? Sebagai mata rantai peradaban, sebagai bagian dari rangkaian sejarah bangsa, setiap orang tidak menunggu kereta waktu. Alarm sudah dibunyikan. Sekarang, waktunya kita untuk bangun, bangkit dan bekerja. Bercermin pada Borobudur : masa lampau telah mewariskan, masa kini adalah saatnya membuktikan, agar dapat diwariskan kembali kepada masa depan.

 

 

5. >>> WHY

Borobudur adalah tanda dan bukti peradaban luhur yang relatif masih utuh dan masih dapat dibaca dengan sangat jelas. Ia bukan sekedar “dead monument” yang minim fungsi dan hanya dieksploitasi sebagai tujuan wisata. Lebih dari itu, Borobudur merupakan SOURCE OF KNOWLEDGE bagi umat manusia. Dibangun bukan tanpa maksud dan bukan sekedar tumpukan batu yang diam dan menunggu aus akibat kaki-kaki manusia yang berjalan-jalan di atas tubuhnya setiap hari. Ditinjau dari berbagai perspektif keilmuan, ia adalah sumber ilmu pengetahuan yang sangat fungsional, khususnya untuk bangsa Indonesia.

 

Nilai-nilai yang terkandung didalamnya merupakan rekam jejak, yang jika kita mampu memfungsikannya melalui cara pandang ilmiah dan tata laku yang patut, maka ia akan menjelma menjadi REPOSITORI DATA yang siap untuk diaktifkan dan dapat diiakses dengan mudah. Borobudur adalah data base peradaban, yang keberadaannya terhubung secara langsung dengan mata rantai perjalanan peradaban lain di dunia. 

 

Segenap nilai-nilai luhur pada puncak peradaban di jaman keemasan Borobudur sangat mungkin diterjemahkan dan di revitalisasi, dengan memakai metoda penafsiran atas refleksi budaya dan mekanisme pembuktian yang tepat, menyusun langkah-langkah yang strategis melalui program integral dan kegiatan yang efektif, tepat sasaran serta berkelanjutan, ia dapat mewujud pada masa kini, di jaman generasi milenial, bahkan tanpa perlu mengusik, merusak atau menyentuh fisik candinya. 

 

Aktivasi dan reaktualisasi tatanan kehidupan Borobudur menjadi sangat penting karena data yang tersimpan didalamnya tak hanya merekam pola-pola seni yang artistik dan estetis, tak cuma menggambarkan tata nilai kebajikan dan kemanusiaan, tak sekedar menjadi spirit dari banyak gerakan, bukan hanya berdiri sebagai simbol dan saksi sejarah yang bisu. Borobudur dapat difungsikan sebagai sebuah CLOUD SYSTEM. Di tubuhnya tersimpan berbagai file disiplin ilmu sains dan indikator pencapaian teknologi, yang secara tegas dan lugas menyatakan bahwa sebuah puncak peradaban atas suatu pencapaian kebudayaan telah berhasil diraih oleh bangsa ini.

 

 

6. >>> HOW

Tidak ada yang mustahil jika kita mau berupaya, Orkestra Sound of Borobudur adalah bukti dari upaya tersebut. Melalui satu aspek saja, yaitu musik dalam pahatan relief : 226 gambar alat musik dan 45 panel penggambaran peristiwa ansambel musik. Pahatan dalam relief tersebut kini telah ditarik keluar dan diwujudkan kembali, sebagian ada yang harus dibuat ulang, atau dicari dan dikumpulkan dari 34 provinsi, dan hasilnya hari ini telah tersedia 195 buah instrumen, dituangkan dalam komposisi karya musik yang sudah dan akan dimainkan oleh 30-40 orang musisi handal Indonesia.

 

Sumber bunyi itu bernama kawasan Borobudur, sumber informasi pengetahuan itu adalah candi Borobudur. Ibarat daya dari pembangkit tenaga yang tak pernah habis, menggelombangkan spirit atas nama ilmu pengetahuan dan kebudayaan, mewariskan berbagai tata nilai yang dikemas dalam keindahan ragam estetika seni. BOROBUDUR MEMANGGIL, bunyian bertenaga itu lantas bergaung, menyentuh kesadaran banyak orang dari berbagai disiplin ilmu, para pegiat dan pembakti sosial, akademisi, seniman, budayawan dan seluruh elemen masyarakat, lintas suku, agama dan budaya. Lalu mereka bergabung dalam tujuan yang sama : menyebarkan resonansi pengetahuan dan mewujudkannya dalam kegiatan-kegiatan konkrit, konstruktif dan integral.

 

Jejaring kegiatan Sound of Borobudur Movement kemudian berkembang semakin luas, dimulai dengan beberapa program yang sesuai dengan rute dan roadmap, meliputi  berbagai aktifitas sebagai berikut : 

·       MUSICOVERNATIONS adalah program online berbasis musik yang dimainkan dengan Instrument musik yang terpahat di dinding candi, dimainkan oleh musisi Indonesia, kemudian di respon oleh musisi dunia secara terbuka

·       SOUND of BOROBUDUR EXHIBITION CENTRE di kawasan Borobudur 

·       Program pembangunan SOUND of BOROBUDUR LEARNING CENTRE  di kawasan Borobudur (program pendidikan dan pelatihan musik kepada masyarakat, pelajar dan tamu pariwisata)

·       Program pelatihan berbasis Sustainibility Livelyhood di Kawasan penunjang pariwisata seputar Borobudur 

·       Program Community Based Development di Kawasan Borobudur 

·       Program penguatan tradisi dan seni budaya di seluruh Indonesia

·       Program pendidikan, pelatihan dan Pengembangan kriya di sektor ekonomi kreatif (pembuatan alat-alat musik dari relief Borobudur beserta segenap produk turunannya)

·       Program Ekologi dan tata kelola Lingkungan berbasis kearifan lokal

·       Program tahunan SOUND OF BOROBUDUR, CULTURAL SUMMIT

·       Program tahunan SOUND OF BOROBUDUR, INTERNATIONAL MUSIC CAMP

Semua komponen masyarakat ini akan bekerja dan bergerak dalam irama yang sama, mengintegrasikan diri dan saling mendukung, dengan satu kesadaran : gotong royong untuk mendorong terjadinya perubahan pembangunan ke arah yang tepat. 

 

Tahap kerja Sound Of Borobudur Movement berpijak pada pola runutan tata nilai semesta yaitu : tata salira – tata nagara – tata buana. Tanpa adanya perubahan mendasar pada konsep diri dan pola pikir sebagai pribadi (tata salira), seorang manusia mustahil dapat menjadi anggota masyarakat yang baik (tata nagara), maka ia juga tidak akan dapat memelihara lingkungan dan alamnya (tata buana). Hal ini sesuai dengan eksistensi Borobudur sebagai spirit : pribadi yang telah mencapai kemanusiaan dan ketuhanan (tata salira), seorang manusia dapat bekerjasama dalam kebhinekaan dan membangun bangsanya dengan ilmu pengetahuan (tata nagara), maka ia akan mampu merawat dan mengelola sumber daya alam dan memelihara ekosistem kehidupannya sebagai warga bumi (tata buana).

 

Dengan pijakan dan pola inilah seluruh program berikut segenap turunan kegiatan dilakukan, dengan kontribusi penuh dari para akademisi, ilmuwan, pegiat lapangan dan masyarakat. Semua bergerak dan bekerja dalam wilayah kerjanya masing-masing, memaksimalkan fungsi dirinya sebagai manusia Indonesia, namun saling menguatkan dan mengaitkan diri dalam spirit yang sebangun dengan menggunakan module kerja yang dipikirkan, disusun, dirangkai dan dibangun bersama-sama. Setiapnya dapat memperluas jejaring dan menjejaringkan diri dengan siapapun yang memiliki visi dan misi dalam aras yang setujuan.

 

Seluruh komponen dan elemen dimungkinkan bergabung, karena seluruh unsur akan saling melengkapi, setiap lini akan memperkuat akar gerakan, namun iramanya sama, arahnya pun sama : membangun masyarakat yang beradab, berbudaya dan berketuhanan. Perubahan konstruksi berpikir (mental) dan perubahan perilaku (moral), akan mengantar harkat bangsa ini menuju ke aras kehidupan yang lebih baik, seperti yang diharapkan oleh para pendahulu kita. 

 

Kehadiran Sound Of  Borobudur Orchestra, dapat difungsikan sepenuhnya sebagai alat diplomasi budaya antar bangsa dan dapat berperan penting sebagai alat komunikasi lintas suku di Nusantara. Bahkan, secara intangible (tak benda) setiap hasil bunyian dari seluruh Instrument musik yang terdapat dalam relief candi dan dimainkan dalam orkestra ini dapat menjadi sebuah alternatif baru yaitu : SOUND DESTINATION. Karena Sound of Borobudur merupakan ‘soundscape’ dari kawasan tersebut, maka dengan menjalankan rute kerja dengan roadmap yang terukur serta ditunjang oleh kemajuan teknologi, besar kemungkinan akan terjadi suatu pembentukan citra bunyi yang akan menjadi duta besar bangsa yang berkeliling memperkenalkan dirinya sendiri ke seluruh dunia.

 

Di sisi lain, secara tangible (wujud), kehadiran Sound Of Borobudur Movement di tengah masyarakat kawasan dengan tahapan rencana kerja yang dipaparkan di atas (seyogyanya dapat didukung dan bekerjasama dengan banyak pihak terkait), akan meciptakan alternatif baru tujuan wisata yang diharapkan akan memicu terbangunnya banyak kegiatan yang tumbuh berdasarkan nilai-nilai kehidupan yang terkandung di dalam spirit Borobudur. Secara bersamaan juga harus diupayakan berdampak nyata dimana masyarakat akan dipacu untuk menjadi pelaku budaya yang aktif produktif, memiliki  keterampilan dalam karya cipta kriya serta ragam produk kreatif lainnya. Segenap bentuk turunan produk yang diinspirasi dari gambar alat musik yang terpahat di dinding candi, dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai daya dorong dalam peningkatan sektor ekonomi berkelanjutan di dalam kawasan.

 

“Candi Borobudur adalah substansi. Kawasan Borobudur adalah bentang alamnya (Landscape), Sound of Borobudur Movement adalah bagian dari bentang kehidupan dan budayanya (Lifescape) dan setiap entitas bunyi yang hadir dalam komposisi musik Sound of Borobudur Orkestra adalah bentang bunyiannya (Soundscape)”

 

Proses panjang untuk merevitalisasi nilai, spirit dan warisan (benda dan tak benda), telah dimulai dengan melakukan suatu rekonstruksi yang dilandasi oleh berbagai tinjauan, dan proses ini masih akan terus dilakukan selaras dengan setiap gagasan atau tinjauan lain yang muncul daripadanya. Demikian pula dengan reinterpretasi atas bunyi dan pembuatan komposisi musik, sebagai musisi kami pasti akan terus bergairah untuk mempelajari dan merasakan berbagai dinamika yang timbul daripadanya, karena kami paham betul bahwa ruang interpretasi  musikal ini terbuka luas bagi siapapun yang ingin memainkan alat-alat musik dari relief candi Borobudur ini. 

 

Namun demikian sebuah program reaktualisasi telah muncul ke permukaan sebagai hasil karya yang berwujud nyata, paling tidak ini adalah sebuah permulaan, hasil dari sebuah gerakan dan upaya kami selama rentang waktu kerja selama 5 tahun. Tentu saja kami, para seniman musik dan tim kerja inti Sound Of Borobudur Movement di bawah naungan Yayasan Padma Sada Svargantara juga ingin memiliki kontribusi yang konkrit dengan manfaat yang benar dan terukur. Kini, program reaktivasi itu sudah mewujud dalam sebuah kegiatan yang bergerak maju, Borobudur sudah berbunyi, Borobudur memanggil marwahnya kembali. 

 

Segenap upaya untuk mewujudkan nilai-nilai luhur melalui Sound of Borobudur Movement diharapkan akan menjelma menjadi LIVING LEGACY, warisan yang hidup-tumbuh dan berkembang, berdenyut kembali dalam setiap jantung anak bangsa, mewarnai seluruh gerak dan langkahnya. Inilah spirit dan ruh Borobudur yang akan diturunkan secara terus menerus kepada generasi selanjutnya, mereka yang kelak memilih jalan dan membawa bangsa ini ke masa depan. Seperti nenek moyangnya, mereka harus menjadi putra putri pertiwi yang bermartabat, tangguh, cerdas, analitis, kritis, produktif, unggul, berkepribadian dan karya-karyanya diakui oleh dunia. 

 

 

Bintaro, 14 Juli 2019

–  TRIE ‘iie’ UTAMI – 

 

Notes :

Saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Ibu Roosenani Kusumastuti yang pada tahun 2017 telah mengizinkan saya untuk mempergunakan skripsinya yang ditulis sebagai tugas akhir beliau di Universitas Indonesia pada tahun 1981, sebagai titik tolak penelitian terhadap relief alat-alat musik di candi Borobudur.

 

Juga kepada seluruh guru-guru yang telah menorehkan tulisan-tulisan bermanfaat yang selama ini saya pakai sebagai bahan dan bekal perjalanan, serta segenap sahabat yang tidak pernah bosan saya ajak diskusi tentang Borobudur selama 5 tahun belakangan ini. Saya yakin apa yang telah ditulis dan kita diskusikan akan menjadi bagian tak terpisahkan dari Sound of Borobudur, kemarin-kini dan nanti. 

 

Terimakasih kepada suami saya Rully Fabrian Baksh yang sejak awal sangat setia menterjemahkan seluruh pikiran saya kedalam skema dan bagan-bagan teknis serta dengan tekun membuatkan seluruh bahan presentasi Sound of Borobudur dari A sampai Z. Terimakasih sahabat terbaik Dewa Budjana yang sejak awal sudi menemani proses atas gagasan yang tidak mudah dilakukan ini. Mas Purwa Caraka yang melibatkan diri secara penuh, mensupport dan mendukung sampai alat-alat ini bisa dibeli dan terkumpul, melakukan perekaman musik sampai membuat video clip. Dan sahabat Japung (Redy, Bachtiar, Mas Kimpling,  Rayhan, John Arif, Aak, Eyang DNT, Ali, Ganzer, Argo, Febri, dll), yang telah ikut serta dalam mewujudkan Sound of Borobudur pada tahap awal. Serta masyarakat Borobudur yang telah mendukung dan menjadi saksi dari  kelahiran SoB pada kegiatan Borobudur Cultural Feast tahun 2016.

 

Hormat saya kepada teman-teman musisi Indonesia yang terlibat dalam proses pembuatan komposisi, aransemen, rekaman audio dan pembuatan Video Clip Sound of Borobudur : Bintang Indrianto (arranger dan produser musik), Chaka, Fariz Aceng, Tofan, Kiki Dunung, Ronald, Iwan Wirazd, Saatsyah, Jalu, Vano, Ivan Nestorman, Gaspar dan sahabat-sahabat lainnya. Perjalanan masih sangat panjang, ini baru tahap awalnya saja. 

 

Terimakasih dan rasa bangga kepada para leluhur yang telah menyimpan dan meninggalkan pengetahuan-pengetahuan dalam candi, yang memacu kami harus lebih pandai lagi ‘membaca’ segenap sandi dan kode yang ditorehkan dalam gambar dan rupa. Semoga upaya kami bermanfaat bagi siapapun yang ingin belajar dan bergairah untuk memiliki lebih dari sekedar berpengetahuan. 

 

Karena saya bukan akademisi, dianggap nggak sekolah, mesti pendapat saya juga dianggap ngawur. Mungkin karena itulah saya dengan bebas berangkat untuk mengolah mimpi, memperjalankan angan-angan dan mewujudkan cita-cita dengan bahagia, bebas dan penuh rasa sukacita. Minimal ngawur-ngawur ini ada hasilnya lah walaupun sedikit. Selebihnya anggap saja celotehan anak kecil yang sedang bermimpi untuk mewujudkan keinginannya untuk bertualang dan mengisi hidupnya dengan hal-hal yang mengasyikkan. 

 

Walaupun demikian, perjalanan mempelajari Borobudur adalah petualangan tak kenal batas, dan mewujudkan segenap nilai serta spirit yang ada di dalamnya menjadi bukti kerja yang konkrit merupakan tanggung jawab yang sangat membahagiakan. Saya dan teman-teman, serta masyarakat Borobudur akan berjalan terus dan tidak pernah berniat untuk berhenti. Semoga pengetahuan dan pengalaman yang tak seberapa ini benar-benar bermanfaat. 

 

Sungguh, sebagai anak bangsa saya bangga diwarisi tinggalan sedahsyat Borobudur, saya bangga menjadi orang Indonesia. 

 

 

4 Responses

  1. desr mb Trie. .yg hebat
    Salut. utk usaha keras , semua pemikiran dan niat yg mendasari upaya melestarikan budaya melalui musik di Nusantara .
    Saya sangat kagum dan setuju dengan adsnya upaya ini..dan berharap semoga semakin banyak yg mengerti dan menyadari bhw kita memiliki kekayaan budays yg harus dipertahankan dan tidak di hancurkan dgn pemahaman yg merusak budaya kita .
    Semoga upaya yg luhur ini dapt diteruskan ke generasi selanjutnya
    Sukses selalu ya mb Trie dan team sound of Borobufur

  2. Baca ini saya jadi paham, mengapa sejak 2017 Mbak Tri Utami kerapa wara-wiri di Kawasan Borobudur. Tatkala itu saya dapetin info dari seorang guide, saat saya dolan ke tiga candi. Sungguh kerja keren!

  3. Sebuah artikal yg sarat edukasi dan inspiratif dari pemaparan sebuah budaya tentang seni musik.
    Walau Trie utama menyatakan dia tidak datang dari kalangan akademisi. Tetapi, isi artikel ini malah begitu bernas, padat, dan penuh oleh olahan tentang seni musik bernilai tinggi.
    Sangat Komplikated, bermutu, dan disarankan untuk menjadi sebuah Pustaka tersendiri untuk menambah wawasan kita akan seni luhur Budaya Bangsa.

Leave a Reply to Tini Bagyo Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *